Kamis, 18 Desember 2014

Untuk Seseorang, Kamu ...

Untuk seseorang yang pernah menyalakan pendar harap dihati ini

Hey, masih ingat pertama kali kita bertemu ? tidak ? oh ya karena memang tidak ada yang spesial menurutmu. Tapi tidak untukku, aku masih mengingat setiap detik potongan adegan dimana aku pertama kali aku melihatmu, kau menarik.  Selebihnya ? semua  berjalan biasa saja sampai akhirnya kau menyapaku dan kita saling bertukar cerita, nyaman.
Hey, entah berapa kali dalam sehari kita saling menyapa, bertukar kabar, bertukar cerita. Seingatku kamu humoris, ya sangat humoris dan aku menyukainya. Larut aku terbawa dalam kedekatan kita, komunikasi yang kita jalin dan kedekatan kita selama ini. Aku semakin nyaman
Hey, taukah kamu bahwa selama ini aku membohongimu bersikap seolah tak menyukai sedikitpun  tentang dirimu. Jauh, jauh didalam hati ini sesungguhnya aku memujamu. Memuja setiap jengkalnya dirimu. Sejujurnya senyumanmu manis, aku suka ujung senyummu. Aku sepertinya mulai menyukaimu, ups !


Untuk seseorang yang pernah membawa hati ini terbang sejauh Neptune

Kau telah membawa hatiku terbang sejauh Neptune. Menerobos atsmosfer, mengorbit bumi, melewati sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter kemudian melesat menuju Neptune. Aku menikmati setiap detik saat bersamamu, menikmati irama detak jantung ku yang berdegup tak beraturan, menikmati setiap hela nafas yang tak berirama karena aku terlalu senang saat bersamamu. Aku tak bisa mengontrol diriku sendiri.


Untuk seseorang yang tak tahu hatinya untuk siapa

Detik ini, aku akui. Aku menyukaimu. Ya, tanpa alasan pasti dan aku tak tahu sejak kapan. Tapi, aku tak tahu sampai detik ini hatimu untuk siapa. Aku takut jika ini akan menjadi seperti domino, aku jatuh kepadamu tetapi kamu jatuh ke sisi yang lain. Aku bukanlah ahli pembaca pikiran manusia, bahkan akupun tak padai dalam membaca guratan wajah seseorang. Aku takut bila ternyata, selama ini aku salah mengartikan semua yang ada dihadapanku, aku takut jika ternyata memang sejauh ini kau hanya menganggap ini biasa saja, semetara aku telah jatuh lebih dari biasanya. Dan yang paling aku takutkan jika ternyata hatimu telah terisi orang lain dank au sangat  memujanya seperti aku memujamu 


Untuk seseorang yang berada dalam setiap tetes air mata yang jatuh tadi malam

Hey, aku menyapamu lagi. Hari ini terasa berbeda ya, ya aku merasa ada sesuatu yang salah telah terjadi antara kita. Dalam versiku, aku menumui banyak kegelisahan yang selama ini berputar dikepala dan semua kegelisahan itu seakan akan menjadi nyata tak lama lagi. Aku semakin takut jika aku harus terluka lagi (aku belum siap). Aku merasa semakin ada jarak yang melebar diantara kita dan seakan akan tembok berlin kembali dibangun untuk menghalangi kita.
Semua ketakutan itu berkecamuk didalam dada, menyeru semakin kencang hingga air mata tercipta.

Untuk dirimu disana, yang namanya kusebut dalam doa ku kepada sang pencipta
Untuk dirimu disana yang semoga sedang baik baik saja, ketahuilah, aku memiliki sepetak hati yang telah kau huni dengan pasti. Aku tak tau dihatimu kini ada siapa, yang perlu kau tau dihati ini telah tertulis namamu, kau bisa datang kapan saja jika kau mau. 


hey, aku menulis ini sambil tetap memikirkanmu  :)

Sabtu, 22 November 2014

Aku, Jatuh .....



Aku harus memulainya dari apa ? kata apa yang harus kuucapkan untuk mendefiniskan apa semua ini. Aku bertemu denganmu mungkin ini takdir Tuhan, entah apa yang akan Tuhan gariskan kemudian dengan ini. Ya, mungkin aku yang salah, aku salah mengartikan semuanya, aku yang terlalu dini menjatuhkan hati, hingga hati ini terluka ini salahku sendiri bukan salahmu

Sering medengar pepatah “daun jatuh tak pernah menyalahkan angin yang berhembus” saat daun itu jatuh karena angin hingga ia terpisah dari rantingnya ia samasekali tidak menyalahkan angin. Entah kemana daun itu akan terbang jatuh ke tanahkah atau terbang kemana angin itu berhembus. Sama seperti daun, aku jatuh, jauh kedalam hatimu semakin jatuh hingga aku sadar aku  tersesat dan terlambat untuk mencari jalan pulang, karena jalan itu tak pernah tergores dalam peta manapun Colombus pun mungkin tak punya. Ya aku jatuh tapi aku tak mau menyalahkan siapapun itu yang membiarkan aku jatuh

Tuhan tau aku jatuh, Tuhan pun kini tahu aku benar benar jatuh jauh tersesat pada perasaan yang aku sendiri pun tak yakin perasaan seperti apa ini. Aku tak mau menyalahkan Tuhan atas ‘jatuhnya’ aku, sombong sekali aku menyalahkan Tuhan, Ia yang menganugerahkan rasa ini Ia yang mengizinkan aku merasakan sensasi kupu kupu dalam perut apa iya aku harus menyalahkan-Nya ? tidak, Tuhan tidak salah.

Aku yang salah ……

Senin, 20 Oktober 2014

Doa Yang Lain ...

Satu yang mengganjal dan selalu berputar diotak, ya wanita yang gue panggil dengan sebutan "Mama" beliau semakin tua, semakin terlihat lemah dibalik sosoknya yang gue tau beliau adalah wanita yang sangat tegar. Sejujurnya wanita yang gue panggil dengan sebutan Mama ini bukan ibu kandung gue, ya beliau adalah tante gue dia yang membesarkan gue dari gue SD.Kita ini dua orang yang sama sama keras dengan apa yang kita mau dan apa yang kita anggap benar menurut kita, dan parahnya beliau adalah sosok yang sangat otoriter semua harus berjalan sesuai dengan apa yang beliau mau, awalnya (dulu) gue adalah anak yang selalu nurut saat beliau berkat A oke gue akan mengikuti A. Semakin dewasa sikap pemberontak gue mulai terlihat jelas, sedikit melawan beliau dan membantah apa yang beliau katakan. Hari demi hari selalu ada saja konflik diantara kami, tapi anehnya semua selalu berakhir begitu saja seakan semua masalah menguap entah kemana. Terkadang gue yang ngalah kadang juga mama yang ngalah. Tapi gue semakin sadar, apa yang dbilang mama itu benar dan itu demi gue sendiri

Kami memeluk keyakinan yang berbeda, mama khatolik dan gue islam. Tapi diantara kita gak pernah ada konflik yang menyangkut masalah agama. Mama serimg banget ngingetin gue untuk sholat dan sholat terus, mama selalu berpesan "jangan sekali kali kamu ningalin sholat". Dan satu yang membuat gue speechless adalah mama selalu bilang gini "Yut, mama selalu doain kamu setiap mama ke gereja, mama selalu doain kamu setiap pagi sore dan malem biar kamu selalu dalam lindungan Tuhan, biar kamu sukses" ...... ya beliau selalu mendoakan gue dengan caranya menyembah Tuhannya.

"Kepadan Tuhan yang kami sebut dengan nama yang berbeda, kepada Tuhan yang selalu mama sebut dalam setiap doanya, aku memohon kepada-Mu lidungilah mama dalam setiap langkahnya. Kuatkan ia selalu dalam melangkah, berilah mama umur yang panjang supaya ia bisa melihatku sukses suatu hari nanti seperti apa yang selalu ia doakan untukku dihapan-Mu. Tuhan kau pasti tahu mama itu orang yang baik dan penuh kasih sayang, maka kasihilah ia seperti ia mengasihi aku."

Semua jerih payah, usaha dan keringat mama demi gue mungkin gak akan pernah bisa terganti dengan apapun yang bisa dibeli dengan uang. Yang bisa gue lakuin cuma selalu buat beliau bangga.

Terimakasih banyak atas segala apapun yang pernah mama kasih buat aku, maaf mungkin aku bukan figur seorang anak yang sempurna dimata mama. Aku sayang Mama

Just for you my mom my half life, my hero and my reason why I stay .... Margareta Siti Mariyam

Minggu, 11 Mei 2014

Perasaan Seorang Pecundang


Mungkin aku seorang pecundang, yang dapat mengungkapkan perasaan ini pada tulisan tak bertuan
aku mengawalinya dengan kata 'entah"

entah sejak kapan dirimu hadir dibenakku,
bersarang pada setiap memori yang tersiman rapih disetiap sudut otak ini
seakan ada ruang tersendiri yang sengaja kau ciptakan disana
entah sejak kapan pula imaji wajahmu selalu hadir disetiap sudut kemana arah mataku memandang
dan, entah sejak kapan pula aku mulai merindukannmu
merindukan senyummu, merindukan suaramu, dan merindukan aksara yang kau  padaku
merindukan segalanya tentangmu hingga dadaku sesak, seakan semesta mendesakku untuk memikirkanmu

Siapa dirinya ?
siapa dia yang berani memasuki semestaku hingga aku sendiri merasa asing, apa ini semestaku ?
siapa dia yang berani mengusik ketengan gelap malam dan memaksaku untuk terbangun hanya untuk sekedar menyebut namanya dalam 2/3 malam ku ?
siapa dia yang entah dengan sengaja atau tidak, namanya selalu kusebut dihadapan Penciptaku saat aku menundukan kepada merapal doa ?

Iya, aku benar benar telah menjadi seorang pecundang.
buaknnya ku utarakan kepadamu sebentuk cinta ini, tapi malah kutulis dalam diari maya ini
jika memang suatu hari kau membaca goresan pecundang ini,
aku hanya berharap kepada penciptaku, semoga waktu itu adalah waktu yang tepat untuk kau menyadari semuanya, dan semoga kita bisa berada dalam satu sajak menciptakan sebuah rima penuh irama, tanpa ada titik diantaranya



Kepada engkau, puisi tengah malamku.

*ditulis pada 18 Agustus 2010

Kamis, 03 April 2014

hay.... nice to meet you

hay people. let me introduce my self. tjailaaah sok english banget
hay gue dyah, lagi iseng iseng aja bikin blog ini.
dan sekarang gue pun masih belum tahu mau gue kasih materi apa blog gue ini